Sejarah Desa

Sejarah Desa Tambirejo akan dibahas mengenai legenda, serta keadaan desa secara umum dari tahun-tahun sebelumnya. Sejarah Desa Tambirejo kini belum ditemukan referensi yang baku, berkaitan dengan nama yang benar yaitu Tambirejo. Banyak sumber cerita yang dapat dikembangkan berkenaan dengan nama Tambirejo, namun untuk mengetahuinya dapat dilakukan dengan menggali dari berbagai sumber.

Mbah Marwan 80 tahun sesepuh desa yang pernah dihubungi menyatakan, dahulu kala Desa Tambirejo terletak dipinggir sungai dimana sungai tersebut mengalir dari pegunungan Prawoto di wilayah Pati melalui Kudus terus ke Demak yang melewati sebuah kampong yang waktu itu bernama Domas. Sungai tersebut merupakan jalur lalu lintas “Punggowo Agung” Kasunanan Prawoto yang hendak sowan ke Kerajaan Demak Bintoro.

Hal ini dibenarkan oleh Mbah H. Soekahar 85 tahun, Desa domas waktu itu ketika masih jaman penjajahan Belanda masih berupa perkampungan kecil yang ditumbuhi banyak rumput. Seiring dengan perkembangan dari waktu ke waktu akhirnya berkembang menjadi sebuah desa yang dihuni banyak orang dan akhirnya perkampungan itu bergeser kearah selatan.

Namun, jika dipandang dari segi ETIMOLOGI nama Tambirejo bisa diperoleh dari kata “Tambi” dan “Rejo”. Tambi artinya sebuah tempayan yang besar yang terbuat dari anyaman bambu yang biasa dipakai orang desa untuk menjemur hasil panen pada jaman dulu, dan sekarang lebih banyak dipakai oleh masyarakat untuk meletakkan hasil panen. Sedangkan “Rejo” berarti makmur murah sandang murah pangan. Dengan demikian Tambirejo bisa berarti sebuah kampong yang luas dan bentuknya bundar seperti tambir yang merupakan daerah yang makmur rukun damai dan sentosa. Nama tersebut erat kaitannya dengan beberapa tokoh pendahulu yang kini sangat disukai oleh warga masyarakat Desa Tambirejo, nama-nama tersebut antara lain :

  • MBAH RUKUN

Mbah rukun adalah sebuah nama yang cukup melekat erat dihati masyarakat Desa Tambirejo. Hal tersebut dapat dilihat dari semakin eratnya kekeluargaan yang terjalin. Makamnya terletak disebelah utara desa dan didalam sebuah bangunan yang kini disebut “Sarean”. Setiap hari senin dan kamis “Sarean” tersebut selalu ramai dikunjungi orang untuk berziarah.

Setiap warga Desa Tambirejo yang akan punya hajad sudah pasti mengirim sesaji berupa ingkung dan nasi untuk selamatan. Selain hal itu, mitos yang berkembang di masyarakat dimana ada orang luar desa yang pindah dan menetap di Desa Tambirejo pasti akan kerasan dan rukun tidak suka bertengkar.

  • MBAH NAMBANGAN

Adalah seorang tokoh utusan dari Kasunanan Prawoto yang diutus sowan ke Demak. Namun, dalam perjalanan yang menggunakan jalur sungai, perahu yang ditumpangi terseret arus sungai sehingga perahunya terbalik bersama penumpangnya dan terdampar dipinggir sungai dan dimakamkan ditempat itu yang kini dikenal dengan nama Mbah nambangan (orang yang menjalankan perahu untuk menyeberang) dan welahnya (benda yang dipakai untuk mempercepat laju perahu) terbawa arus sampai di welahan (watang) terdampar disebelah selatan yang dinamai Desa Ngacir sebuah Desa diwilayah Kecamatan Dempet sebelah utara.

  • MBAH DUNGKAP

Nama tersebut erat kaitannya dengan berdirinya Desa Tambirejo, nama Dungkap konon diambil dari nama seorang Petapa dimana dalam setiap pertapaannya selalu ketahuan orang (dalam bahasa jawa disebut kedungkapan) dan sampai wafatnya. Kini, makamnya terdapat di Desa Mlatiharjo. Dahulu pernah ada yang menelusuri seluruh perkampungan untuk menemui sesepuh desa guna mencari tahu keberadaan nama Tambirejo. Hasil yang didapat berupa nama-nama kampung yang menjadi cikal bakal berdirinya nama Desa Tambirejo. Kampung tersebut antara lain :

  1. Domas Gedhe
  2. Domas Cilik
  3. Dungkap
  4. Brojo
  5. Ngelo
  6. Tempel
  7. Mojosimo Cilik
  8. Mojosimo Gedhe
  9. Mojosimo Rowo

Kemudian dari nama-nama diatas dapat digali beberapa sumber tentang keberadaan nama-nama tersebut :

  • DOMAS

Mbah Juwadi 70 tahun yang mengetahui tentang nama Domas menceritakan :

Nama tersebut erat kaitannya dengan nama seorang yang sangat rukun dalam hidupnya sehingga sampai akhir hayatnya mereka mati bersama dan dimakamkan berdampingan yang disebut Mbah Rukun.

Orang inilah yang konon memiliki segenggam emas yang diletakkan dalam sebuah waloh (buah bulat yang biasa dibuat minum kolak). Waloh tersebut dikubur (dipendam jawa) ditempat pertapaannya. Sampai akhir hayatnya tidak ada yang tahu letak pendheman waloh tersebut. Dari kata Pendheman Emas itulah yang akhirnya berubah menjadi Domas. Domas inilah yang sekarang menjadi pusat pemerintahan Desa Tambirejo. Di makam Mbah Rukun tadi apabila keluarganya Mbah Wineh (Warga Dukuh Ngluntas Desa Mlatiharjo) sering berziarah akan mendapat rezeki yang banyak.

  • DUNGKAP

Nama Dungkap diambil dari kisah seorang petapa yang selalu kedungkapan (ketahuan) orang saat bertapa.

  • BROJO

Dikampung inilah konon ada seorang yang memiliki ajian (Do`a yang dikeramatkan dan memiliki kekuatan gaib berlebih) bernama Brojo Musti. Apabila ilmu itu dibaca dan dipakai untuk menempeleng musuh seketika musuh itu mati. Karena kesaktian ilmunya itulah orang tersebut kemudian mendirikan Padepokan (tempat menimba ilmu kesaktian) yang diberi nama Ki Brojo yang dalam perkembangannya disebut Mbrojo.

  • NGELO

Kata Ngelo didapati dari istilah gelo (orang kecewa) mengapa kelompok masyarakat ini disebut gelo). Dulunya Ngelo ini hanya dihuni oleh satu keluarga yang gelo diatas. Dimana keluarga tersebut gelo dengan kepemimpinan kepala desa yang tak adil dalam membagi anggaran pembangunan, maka ia menyendiri dan kini menjadi sebuah kampong yang disebut Ngelo. Sumber lain menyatakan hal yang berbeda, kata Ngelo diambil dari sebuah kata yang dimana di kampong tersebut dahulu kala ada seorang yang kalau berjalan suka menggelengkan kepala atau dalam bahasa jawa disebut nggelo yang akhirnya berganti Ngelo.

  • TEMPEL

Nama Tempel adalah sebuah kampong kecil didekat Desa Tanjunganyar namun jauh dari desa induknya yaitu Tambirejo, karena letaknya yang menempel itulah disebut kampong Tempel yang letaknya bersebelahan dengan Desa Tanjunganyar.

  • MOJOSIMO

Nama Mojo Simo berasal dari sebuah nama pohon yaitu pohon mojo dan seekor simo atau macan besar berbulu lebat dan bertaring. Alkisah seekor singa tersebut bersarang dibawah pohon mojo, singa tersebut suka memangsa manusia yang melewatinya. Namun, berkat kerjasama para tokoh akhirnya dapat ditaklukkan dan mati dibunuh, untuk mengabadikan peristiwa itu tempat tersebut diberi nama MOJOSIMO.

  • TAMBIREJO

Nama besar Tambirejo menurut pemuka masyarakat berasal dari kumpulan nama-nama kampong diatas, dimana letak geografis Tambirejo yang berada dipersimpangan sehingga berkembang pesat menjadi sebuah desa yang makmur dalam bahasa jawa disebut REJO, hal ini ditandai dengan berdirinya sebuah pasar yang didalamnya banyak dijual Tambir (sebuah barang tradisional yang terbuat dari anyaman bamboo berbentuk bulat yang bisa dipakai untuk menjemur hasil bumi). Inilah yang akhirnya dikenal dengan nama Tambirejo. Dalam perkembangan Pemerintahan Desa Tambirejo terpecah menjadi dua desa yaitu Tambirejo dan Mojosimo.